Outlook Ekonomi Hari Ini 01 Mei 2017

Asia: Saham Asia terkoreksi pada hari Jumat dipicu aksi profit taking investor, sedangkan won Korea melemah setelah Presiden AS
Donald Trump mengatakan akan menegosiasi ulang atau mengakhiri kesepakatan dagang dengan Korea Selatan. Trump menyebut pakta
perdagangan lima tahun tersebut dengan Korea Selatan "tidak dapat diterima" dan mengatakan akan melakukan renegosiasi setelah
pemerintahannya menyelesaikan perombakan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) dengan Kanada dan Meksiko.
Komentar Trump mengejutkan pasar keuangan Korea Selatan, memicu gerak balik saham Seoul dan won. Kospi yang awalnya dibuka
menguat kemudian ditutup melemah 0,2%. Nikkei juga turun 0,2% namun catat kenaikan mingguan 3,2%, yang terkuat sejak November.
Indeks Hang Seng melemah 0,3% namun dalam sepekan menguat 2,4%.

Eropa: Aksi profit-taking investor picu koreksi bursa Eropa, namun memastikan minggu terkuat mereka sejak Desember karena
kekhawatiran politik mereda dan broker memperkirakan pertumbuhan pendapatan yang kuat akan mendukung valuasi. Indeks STOXX
600 ditutup melemah 0,2% di 387,09, sementara indeks FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,3% dan CAC Perancis berakhir datar. Para analis di
Bank of America Merrill Lynch menaikkan target mereka untuk STOXX menjadi 420 poin dan memprediksi earnings Eropa akan tumbuh
15% tahun ini.

AS & Global Markets: Saham global terkoreksi pada hari Jumat, menyusul melemahnya ekuitas AS pasca rilis data PDB-Q1 yang buruk,
sementara euro terapresiasi setelah rilis data inflasi kawasan yang berhasil tembus target ECB. Ekonomi AS hanya tumbuh 0,7% (Q1),
yang terlemah dalam 3 tahun, menyusul menurunnya belanja konsumen dan bisnis investasi, yang merupakan potensi kemunduran pada
janji Presiden Donald Trump untuk mendorong pertumbuhan. Kondisi ini telah menekan Wall Street, meskipun sejumlah saham
perusahaan seperti Alphabet (induk Google) dan Amazon ditutup menguat. Adapun Thomson Reuters memprediksi earnings Q1 akan
tumbuh 13,6%, yang terbaik sejak 2011. Sementara itu aksi beli jelang sidang OPEC bulan Mei ini telah membantu menaikkan harga
minyak global.

Week ahead: Data pekerjaan (non-farm payrolls) dan FOMC meeting menjadi agenda utama pekan ini. Setelah menaikkan suku bunga
acuan sekali tahun ini, sebesar 25 basis poin pada pertemuan kebijakan terakhirnya pada bulan Maret, maka The Fed diprediksi akan
menaikkan 2 kali lagi pada akhir tahun. Dengan tidak adanya konferensi pers, maka pidato dua hari berikutnya oleh Wakil Ketua Fed
Stanley Fischer dan kepala Fed San Francisco John Williams akan dicermati untuk mendapatkan petunjuk tentang potensi langkah The
Fed di bulan Juni. Sedangkan dari Eropa akan dicermati data PDB-Q1, tingkat pengangguran (Maret) dan indeks PMI (April).

508468